5 Fakta Unik Tentang Kapal Penisi

1. Ritual Pembuatan Kapal Pinisi

Dalam proses pembuatan Kapal Pinisi, ada ritual yang harus dilakukan, lo.

Bahan baku kayu jati dan mahoni yang digunakan untuk merakit Kapal Pinisi harus dikumpulkan pada tanggal 5 dan 7 setiap bulannya.

Hal ini dilakukan sebagai simbol kemudahan rezeki.

Sebelum penebangan pohon dilakukan, ada pembacaan doa dan penyembelihan ayam, sebagai bentuk penyerahan diri kepada Tuhan.

Setelah itu, akan dilakukan peletakan dua lunas atau kayu yang menjadi pondasi bangunan kapal. Lunas ini harus dihadapkan ke arah timur laut.

Nah, lunas bagian depan nantinya akan dipotong kemudian dilarung ke laut sebagai penolak keburukan dan juga sebagai lambang kesiapan untuk mencari nafkah.

Sedangkan lunas bagian belakang juga akan dipotong, tapi bedanya akan disimpan di rumah.

 

2. Makna Bagian Kapal Pinisi

Bagian Kapal Pinisi tenyata memiliki makna atau filosofinya masing-masing.

Dua tiang utama Kapal Pinisi melambangkan dua kalimat syahadat dalam Islam, kemudian tujuh tiang berikutnya merupakan simbol dari surat Al Fatihah.

Simbol itu melambangkan harapan dan doa bagi penumpangnya agar bisa mengarungi samudra.

 

3. Kapal Pinisi Dirakit Tanpa Paku

Pembuatan kapal pinisi juga unik, teman-teman, karena kalau biasanya pembuatan kapal dimulai dengan membuat kerangka terlebih dulu, pada kapal pinisi, badan kapal dibuat terlebih dahulu.

Keunikan lainnya dari kapal pinisi adalah untuk menggabungkan kayu-kayu pembuat kapal, tidak digunakan perekat seperti lem khusus kayu maupun paku.

Ternyata untuk menggabungkan kayu-kayu dan bagian kapal, pembuat kapal pinisi menggunakan pasak kayu, sehingga bagian-bagian tersebut bisa menyatu.

Nah, pasak kayu yang digunakan untuk menyatukan kayu dan bagian kapal merupakan kayu sisa pembuatan kapal.

 

4. Sudah Digunakan Sejak Abad ke-14

Kapal pinisi sudah dibuat sejak ribuan tahun lalu.

Catatan tentang kapal pinisi ada dalam naskah lontar La Galigo pada abad ke-14.

Alkisah, kapal pinisi pertama kali dibuat oleh Pangeran Sawerigading, Putra Mahkota Kerjaan Luwu.

Kapal itu digunakan untuk meminang Putri We Cudai ke Negeri Tiongkok.

Sekembalinya ke Luwu, kapal pinisi sang Putra Mahkota diterjang ombak hingga terbelah jadi tiga bagian.

Konon, bagian kapal itu terdampar di desa Ara, Tanah Beru, dan Lemo-Lemo. Kemudian penduduk di tiga desa itu menyatukan dan merangkai kepingan-kepingan kapal sehingga kembali membentuk kapal.

Sampai saat ini, Kapal Pinisi tidak hanya menjadi alat transportasi, tapi juga untuk pariwisata.

 

5. Warisan Budaya UNESCO

Kapal Pinisi termasuk dalam salah satu warisan budaya tak benda di dunia yang ditetapkan oleh UNESCO.

Kapal Pinisi ditetapkan menjadi warisan budaya dunia tak benda tahun 2017 lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *