5 Fakta Unik Tentang Abdi Dalem Keraton Yogyakarta

5 Fakta Unik Tentang Abdi Dalem Keraton Yogyakarta

Keraton Ngayogyokarto bisa dibilang salah satu kerajaan yang masih berdiri di Indonesia. Kekentalan budaya keraton masih jadi sampai sementara ini di sendi-sendi kehidupan penduduk Yogyakarta. Saat menyusuri kompleks Keraton Yogyakarta, kamu bakal berjumpa bersama banyak pria yang kenakan pakaian lurik dan blankon sebagai penutup kepalanya. Ya, itulah para ‘abdi dalem’ yang mengabdikan dirinya untuk kerabat kerandah keraton dan mengabadikan sepenuh hati untuk Raja Kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat bersama segala ketentuan yang ada.

5 Fakta Unik Tentang Abdi Dalem Keraton Yogyakarta

Banyak orang yang tidak mengetahui seluk beluk kehidupan seorang abdi dalem Keraton Yogyakarta. Banyak perihal menarik yang sudah pasti bakal memengaruhi pandangan kamu terhadap pekerjaan ini. Berikut adalah beberapa fakta menarik perihal abdi dalem Keraton Yogyakarta yang perlu kamu ketahui.

1.Gaji yang diperoleh dulunya hanya berkisar IDR7.000-IDR45.000 per bulan

Gaji para abdi dalem Keraton Yogyakarta berbeda-beda berdasarkan pangkatnya, tapi tidak lah besar lebih-lebih berlebihan. Misalkan untuk pangkat sebagai Panglima Perang Keraton, gaji yang diperoleh dulu sempat IDR45.000 per bulan. Tentu saja untuk pangkat yang lebih rendah bakal beroleh gaji yang lebih rendah pula, berkisar cuma IDR7.000-IDR15.000 per bulan.

Abdi dalem juga beroleh THR menjelang lebaran, yaitu sebesar gaji bulanan yang mereka peroleh. Untuk abdi sekelas Juru Kunci Keraton Yogyakarta, mendapat IDR15.000, sedangkan abdi dalem yang pangkatnya ‘Jajar’ (baru diangkat) mendapat IDR7000. Terkejut bersama nominal ini, bukan? Ya, itu sebetulnya faktanya beberapa th. lalu, belum lama ini dan udah memasuki masa modern, lho.

Yang perlu kamu tahu, ternyata gaji bukan perihal utama bagi seorang abdi dalem walaupun katanya sementara ini gaji mereka udah tidak kembali sesedikit itu. Saat ini, gaji abdi dalem mendapat alokasi dana berasal dari dana pemerintahan Yogyakarta menjadi IDR1,1 juta-IDR2,5 juta untuk nominal tertingginya.

Namun, bagi mereka selamanya saja menjadi abdi dalem Keraton Yogyakarta adalah panggilan jiwa. Mereka percaya bersama menjadi abdi dalem, mereka bakal beroleh berkah berasal dari Keraton, baik berkah dalam kehidupan, rejeki, anak, dan lainnya. Tak cuma itu, kedekatan bersama Sultan dan kerabatnya juga menjadi keuntungan disaat menjadi abdi dalem Keraton Yogyakarta.

2.Abdi dalem tidak dulu menggunakan gajinya kecuali andaikan terdesak

Begitu para abdi dalem mendapat gaji berasal dari Sultan, uangnya tidak bakal segera dibelanjakan. Seluruh gaji bakal ditabung dan baru disaat terpaksa bakal digunakan. Tak cuma hak, kewajiban para abdi dalem tidaklah sedikit. Beberapa diantaranya adalah ikuti upacara-upacara adat, kerja normal 12 hari sebulan (walau tersedia juga yang perlu tiap-tiap hari datang), dan perlu mampir sementara Selasa Wage untuk ikuti ritual ‘Wiyosipun Dalem’.

Biasanya para abdi dalem bakal membersihkan museum kereta Keraton. Ada pula yang laksanakan tugas administrasi pemerintah keraton. Konsekuensi bagi mereka yang senang mangkir berasal dari Kedatangan adalah terhambatnya kenaikan pangkat yang menjadi lebih lama. Jika normalnya untuk mendapat kenaikan pangkat adalah kurang lebih 4-5 tahun, maka bagi mereka yang kurang taat bisa lebih lama sampai satu dekade. Fantastis, bukan?

3.Pihak keraton tidak dulu mengakses lowongan untuk posisi abdi dalem

Menjadi abdi dalem Keraton merupakan perihal yang dijalankan berdasarkan hati nurani dan keinginan diri sendiri, tidak tersedia paksaan berasal dari pihak manapun. Keinginan untuk menjadi seorang abdi dalem selamanya mampir dalam wujud permintaan atau pengajuan diri kepada pihak keraton. Syarat yang perlu dipenuhi cuma satu, tapi sifatnya mutlak: berkelakuan baik atau punyai tata krama yang baik.

Selain itu, abdi dalem juga perlu bisa duduk di bawah dan juga bersila. Bukan artinya merendahkan, duduk di bawah ini bisa disimpulkan kemampuan untuk selamanya bersikap rendah hati dan tidak sombong. Disamping persyaratan, tersedia dua jalur masuk atau kategori abdi dalem yang perlu kamu ketahui. Abdi dalem Keraton Yogyakarta dibedakan menjadi dua yaitu abdi dalem Keprajan dan Punakawan.

Keprajan kebanyakan bertugas di instansi pemerintahan, sedangkan Punakawan bertugas di keraton saja. Jenis ke dua ini masih dibagi ke dalam dua golongan lagi. Ada yang bertugas harian di kantor keraton, dan tersedia pula yang tidak perlu masuk tiap-tiap hari. Abdi dalem bisa berasal berasal dari rakyat biasa dan bisa berasal dari golongan ningrat atau punyai darah bersama keraton. Oleh dikarenakan itu, gelar dan pangkat yang disandang bakal berbeda-beda.

4.Pakaian abdi dalem yang unik dan sarat makna

Abdi dalem identik bersama pakaian luriknya bersama garis corak lurik tiga per empat biru, kancing di leher yang berjumlah enam, dan kancing lengan tangan yang berjumlah lima. Corak lurik tiga per empat biru itu menandakan keteguhan hati. Orang yang sungguh-sungguh. Kancing di leher berjumlah enam itu menandakan rukun iman. Sedangkan kancing lengan tangan yang berjumlah lima itu menandakan rukun Islam yang berjumlah lima. Seragam yang biasa digunakan tiap-tiap hari ini disebut bersama Sikep Alit.

Sementara itu, tersedia juga pakaian yang khusus digunakan andaikan terdapat perhelatan khusus, yaitu jenis Langeran. Disamping kain batik, keris, selop, dan blangkon yang sama, jenis seragam ini terdiri berasal dari pakaian bukakan bersama bahan laken, kemeja putih, dan dasi kupu-kupu putih. Kemeja berkerah berdiri dan dasi yang dikenakan bakal meningkatkan kesan resmi yang cocok bersama acara-acara perjamuan makan malam atau event khusus Keraton Yogyakarta.

5.Jumlah total abdi dalem Keraton Yogyakarta capai 2300 orang

Seperti yang disebutkan sebelumnya, tidak tersedia paksaan untuk menjadi abdi dalem. Pelaku abdi dalem itu sendiri merupakan abdi budaya, tidak bisa disimpulkan sebagai pembantu atau batur. Mereka berasumsi menjadi abdi dalem merupakan ‘jabatan’ terhormat yang membanggakan. Sehingga, tak heran banyak abdi dalem Keraton Yogyakarta yang berasal berasal dari bermacam kalangan orang terpelajar, seperti dosen sampai dokter.

Selain itu, kebanyakan abdi dalem juga mempunyai pekerjaan lain untuk mencukupi keperluan hidup keluarga mereka, jadi berasal dari menjadi pedagang di pasar atau di rumah, menjadi pegawai negeri di bermacam bidang, mempunyai usaha rumah makan, sampai menjadi seorang pengusaha. Mereka menjadi abdi dalem semata idamkan mengabdi kepada Yogyakarta dan terutama kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga bukan ukuran duwit yang mereka cari.

Menjadi abdi dalem merupakan suatu wujud pengabdian yang murni berasal dari hati tanpa mengharap balasan apapun.Taruhan Bola Karenanya jadi sekarang, tidak tersedia alasan kembali bagi kamu untuk lihat sebelah mata posisi ini dikarenakan tidak seluruh orang bisa menjadi seorang abdi dalem yang siap mengabdikan diri semuanya terhadap Keraton Yogyakarta. Selamat mampir di Jogja bersama segala dinamika kebudayaannya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *